Beberapa
saat sebelum meninggal, ibu mengelus-elus kepala saya, kemudian berkata:
“Haruman, lihatlah mata saya baik-baik.”Tampak ada nyala lembut dalam mata ibu,
nyala lilin yang hampir padam.Lilin sudah hampir habis, demikian pula sumbunya.
Namun tampak, nyala lilin itu tenang, tidak sama dengan nyala lilin yang
berjuang untuk tetap hidup pada saat berhadapan dengan angin yang akan
membunuhnya.
Saya
tahu ibu akan meninggal, meninggal dengan benar-benar pasrah.
Dengan
mendadak ada bau, entah datang dari mana, amat lembut, namun amat segar. Saya
diam, namun saya ingat cerita ibu ketika saya masih kecil dahulu: “Haruman,
pada saat saya akan meninggal kelak, akan ada bau dari sorga dikirim ke dunia.”
“Siapa
yang mengirim?” tanya saya, dulu, ketika saya masih kecil.
“Malaikat.
Ketahuilah, Haruman, ada masa awal dan ada masa akhir, demikian juga kehidupan
manusia. Menjelang saat kehidupan seseorang berakhir, pasti ada malaikat
melayang-layang tidak jauh dari dia yang akan meninggal. Kadang-kadang malaikat
tidak membawa apa-apa, kadang-kadang membawa petaka, kadang-kadang pula membawa
bunyi-bunyian atau bau yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia
sebelumnya.Lakukanlah tindakan-tindakan mulia dengan hati yang bersih dalam kehidupanmu,
Haruman, agar kelak, sebelum kamu meninggal, malaikat akan membawakan kamu
pertanda-pertanda yang agung.”
Entah
mengapa, begitu ibu selesai berkata mengenai malaikat yang pada suatu saat akan
datang, saya lupa kata-kata ibu. Saya hanya ingat, ibu selalu berbuat baik
kepada siapa pun, dan sering sekali ibu saya memberi nasihat kepada saya untuk
meniru perbuatan-perbuatannya.Sebagai anak yang baik, saya selalu menurut.
Pada
suatu hari, entah umur berapa saya pada waktu itu, ibu menyuruh saya untuk pergi,
entah ke mana.“Lupakanlah saya, Haruman, namun jangan lupa nasihat-nasihat
saya.Pergilah ke tempat-tempat jauh untuk mencari pengalaman.Pada saatnya
nanti, kamu pasti akan merasa, bahwa waktumu untuk kembali kepada saya telah
tiba.”
Demikianlah,
sejak saat itu saya mengembara. Selama mengembara saya pernah menjadi pengayuh
perahu tambang, penebang pohon di hutan-hutan lebat, tukang memasang atap
rumbia, dan entah apa lagi. Nasihat ibu untuk selalu bertindak baik dengan hati
bersih, selalu saya turuti.Tapi entah mengapa, saya merasa bahwa saya selalu
dicurigai oleh siapa pun yang bertemu dengan saya.Begitu melihat mata saya,
siapa pun, pasti membersitkan sikap curiga.
Kecurigaan
apa yang mereka pendam, saya tidak tahu. Apakah mereka mencurigai saya sebagai
pencuri, pembunuh, penipu, atau apa pun, saya tidak pernah tahu. karena itu,
saya selalu merasa bersalah, atau, mungkin lebih dari sekadar bersalah. Saya
merasa saya berdosa, kendati saya yakin saya tidak pernah melakukan tindakan
laknat sama-sekali. Berpikir buruk pun, kepada siapa pun dan kepada apa pun,
saya tidak pernah.
Mungkin
karena saya merasa selalu dicurigai, dan karena itu saya selalu merasa bersalah
dan berdosa, saya selalu berpindah-pindah tempat.Tidak pernah saya tinggal di
suatu tempat lebih dari tiga hari. Memang, tidak ada satu orang pun yang pernah
mengusir saya, namun saya sendiri merasa bahwa saya akan menjadi beban bagi
mereka.
Pada
suatu hari, ketika saya sedang berjalan dari satu desa ke desa lain, seekor
burung besar, tanpa saya ketahui dari mana asalnya, dengan sangat mendadak
menukik ke arah saya, lalu berusaha dengan amat susah-payah untuk menyerang
mata saya. Entah mengapa, tepat pada saat cakar burung akan menghunjam ke mata
saya, saya berhasil menutup wajah erat-erat dengan tangan. Dengan sangat cepat
burung itu kembali ke udara, lalu dengan sangat mendadak berusaha menyerang
lagi.
Demikianlah,
bertubi-tubi burung itu menyerang saya, dan bertubi-tubi pula saya menutup
wajah saya dengan tangan.Akhirnya, burung itu hanya sanggup melukai tangan
saya, tanpa sanggup mencongkel mata saya.Untuk menahan rasa sakit, saya
terguling-guling di atas tanah dan mengerang-erang dahsyat, entah berapa
lama.Namun, sampai berhari-hari, darah masih terus merembes keluar dari luka
tangan saya, dan rasa sakit masih benar-benar menyiksa.
Sesuai
dengan pesan ibu, selama mengembara memang saya sudah berhasil melupakan ibu.
Selama mengembara itu saya tidak pernah berpikir, bahwa seharusnya saya
mempunyai ibu, ayah, saudara, dan kerabat lain. Saya benar-benar merasa
sebatang kara, tanpa pernah menyadari perasaan saya sendiri bahwa saya adalah
sebatang kara.
Entah
mengapa, pada saat saya hampir selesai berguling-guling di atas tanah untuk
menahan rasa sakit, sekonyong-konyong saya teringat cerita ibu, dahulu, ketika
saya masih kecil.
“Haruman,”
demikianlah kata ibu dahulu, ketika saya masih kecil.“Orang-orang suci pernah
berkata, sebagaimana yang sering saya katakan dahulu, bahwa para pengembara
besar ditakdirkan untuk tinggal di suatu tempat tidak lebih dari tiga hari.
Kalau tidak, akan timbul kekacauan. Ingat-ingatlah kembali kisah para
pengembara besar, sebagaimana yang sudah sering saya ceritakan.”
Entah
mengapa, begitu saya selesai teringat kata-kata ibu mengenai para pengembara
besar, dengan sangat mendadak saya lupa ibu, demikian pula semua tindakan dan
kata-kata ibu. Hanya memang, kadang-kadang, saya merasa mendapat peringatan,
entah dari siapa, untuk tidak tinggal bersama orang lain lebih dari tiga hari.
Dan, memang, saya tidak pernah mempunyai keinginan sedikit pun untuk mengganggu
dan membebani orang lain.
Demikianlah,
setelah saya kena serang burung besar itu, saya cacat.Tangan saya masih tetap
dapat saya pergunakan untuk bekerja, namun lambat dan cepat capai.Seluruh tubuh
saya juga menjadi tidak beres.
Kadang-kadang
tubuh saya mendadak panas, seolah darah saya mendidih.Beberapa kali pula dengan
mendadak saya kehilangan keseimbangan.Kalau keseimbangan kacau, saya terpaksa
berjalan terhuyung, kemudian terjatuh, dan kemudian berguling-guling menahan
rasa sakit.
Namun,
saya harus terus bekerja. Saya tidak mau mengganggu dan membebani orang lain.
Dan saya menolak untuk menjadi pengemis.
Setelah
sekian kali pernah menjadi pendayung perahu tambang di berbagai desa, akhirnya
saya kembali lagi menjadi pendayung perahu tambang di sebuah desa sepi dan
terpencil. Mengapa saya menjadi pendayung perahu tambang lagi, tidak lain
karena pada suatu hari, ketika saya sedang tertidur di bawah sebuah pohon
rindang, dengan sangat mendadak tubuh saya tertumbuk dengan tidak sengaja oleh
seorang laki-laki. Begitu keras dia menumbuk saya, sampai-sampai dia terpaksa
terguling.
Saya
benar-benar terperanjat ketika saya menyadari, bahwa ternyata mata laki-laki
yang tidak sengaja menumbuk tubuh saya ini memiliki mata yang luar biasa indah,
dan luar biasa cemerlang.Namun terasa benar, bahwa mata yang luar biasa indah
itu sebetulnya mengandung penyakit.
“Apakah
kamu seorang laki-laki muda?” tanya dia.
“Ya,”
kata saya.
Saya
sadar bahwa dia memandang saya dengan tajam, namun saya juga sadar bahwa
sebetulnya dia tidak melihat saya.
“Maaf,
sudah bertahun-tahun saya mengalami rabun mata.Makin hari, makin rabun mata
saya.Padahal, di desa ini hanya sayalah yang mau menjadi pendayung perahu
tambang. Kebetulan pula, saya tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja apa pun
selain mendayung perahu tambang saya. Penumpang perahu tambang memang sangat
jarang, namun tidak berarti bahwa saya dan perahu saya tidak pernah
diperlukan.”
Pemilik
perahu tambang itu bernama Gues. Potongan tubuhnya rasa-rasanya mirip potongan
tubuh saya, begitu juga cara dia berjalan. Segera setelah dia membawa saya ke
perahu tambangnya, dia menghilang entah kemana. Mula-mula saya tidak tahu
bagaimana dia bisa berjalan dan mengayuh perahunya, sebab, saya benar-benar
yakin, bahwa sebetulnya matanya sudah benar-benar buta.
Sampai
hampir menjelang malam, tidak ada satu penumpang pun memerlukan perahu tambang.
Saya gelisah, karena sampai hampir menjelang malam itu pula, tidak nampak
tanda-tanda bahwa pemilik perahu tambang itu akan datang. Maka, setelah
mengikat perahu tambang erat-erat, saya berjalan ke arah pohon rindang, dan
tertidur lagi di tempat tubuh saya tertumbuk Gues tadi.
Entah
berapa lama saya tertidur, saya tidak tahu. Seandainya tidak ada tangan halus
mengusap-usap kepala saya, pasti saya akan tertidur terus sampai lama. Tangan
halus siapa?Saya tidak tahu, namun saya yakin, pasti tangan halus
perempuan.Malam sudah benar-benar gelap, dan saya tidak bisa melihat.
Dengan
sangat mendadak, mulut saya terkunci oleh sepasang bibir yang memagut-magut
bibir saya.Saya mendengar nafas mendesah-desah ganas. Di antara pagutan-pagutan
bibir, kadang-kadang saya mendengar suara lembut, namun dengan nada marah:
“Gues, mengapa kamu tidak pernah memperlakukan saya sebagai istri kamu? Berilah
saya keturunan.Kalau kamu mati, siapa yang akan menemani saya?”
Sebelum
saya kena perkosa istri Gues, saya sempat membebaskan diri.Istri Gues berusaha
menangkap saya, namun saya tidak pernah tertangkap. Saya sempat mendengar
lolong-lolong pilu dia: “Gues! Gues! Bukankah saya istrimu?”
Pada
saat dia melolong-lolong sambil berusaha mengejar saya, saya bisa menarik
kesimpulan mengapa Gues bisa berjalan dan mengayuh perahunya.Nampaknya, karena
kebiasaannya yang sudah amat lama, dia hapal semua jalan yang harus dilaluinya.
Dia menumbuk tubuh saya, karena, agaknya, selama ini tidak pernah ada
penghalang apa pun di bawah pohon rindang itu.
Tampaknya,
setelah menyadari bahwa saya lari ke arah yang tidak biasa ditempuh Gues, dia
sadar bahwa saya bukan Gues.Maka melolong-lolonglah dia, memohon ampun kepada
Seru Sekalian Alam.Dia merasa benar-benar menyesal, karena telah berusaha
melumat-lumat tubuh laki-laki yang ternyata bukan suaminya.
Mendengar
lolong-lolong penyesalan, saya berhenti sekejap.Rasa berdosa menyergap seluruh
jiwa dan raga saya. Kendati saya tidak pernah berusaha memperkosa siapa pun,
saya merasa telah menodai isteri orang lain. Hati saya benar-benar luka.Sambil
menangis, saya berlari menjauhi desa.
Luka
hati saya tidak pernah sembuh.Kehidupan saya bagaikan kehidupan dalam neraka,
neraka tempat saya tinggal selama-lamanya. Dosa saya, rasanya, tidak akan
pernah terhapus.
Demikianlah,
saya terus mengembara, tanpa ingat dan tanpa keinginan untuk mengingat berapa
lama saya sudah mengembara.Dan demikianlah, pada suatu hari, dengan sangat
mendadak saya teringat ibu.Maka berjalanlah saya pulang, melalui jalan-jalan
yang sudah begitu lama saya tinggalkan.
Ketika
saya tiba kembali di desa ibu, saya melihat pemandangan yang benar-benar
mengerikan.Debu beterbangan, rumah tinggal sedikit karena rumah-rumah lain
sudah roboh, tanah retak-retak kekeringan, pohon-pohon mati, dan tidak ada satu
hewan pun yang nampak.Sungai juga sudah benar-benar kering.Desa ibu telah ditinggalkan
oleh semua penduduk, kecuali ibu.Dan ibu nampaknya tetap bertahan, untuk
menunggu kedatangan saya kembali.
Begitu
bertemu dengan ibu saya sadar, bahwa ibu sudah lama bersiap-siap untuk
meninggal. Dan dia akan terus bertahan hidup, seandainya saya tidak pernah
kembali. Begitu melihat saya datang, begitu pula dia tampak akan meregang
nyawa. Namun, masih sempat dia mengelus-elus kepala saya.
Tepat
pada saat tangan ibu mulai mengelus-elus kepala saya, langsung saya teringat
kembali cerita ibu dahulu, ketika saya masih kecil, mengenai malaikat yang pada
suatu saat pasti akan datang menghampiri siapa pun.
“Haruman,
maafkanlah saya.Doa-doa saya untuk mendatangkan bidadari ternyata gagal. Sampai
saatnya kamu akan meninggal, kamu tidak akan pernah didatangi bidadari.
Mudah-mudahan setelah kamu meninggal nanti, bidadari akan menjemput kamu.
Bidadari yang akan menjemput kamu, tidak lain adalah calon isteri kamu di sorga
sana.”
Begitu
ibu saya selesai mengucapkan kata-katanya, dengan mendadak mata saya menjadi
pedih.Dan dengan mendadak pula, saya merasa benar-benar buta. Saya tidak bisa
melihat apa pun.
“Haruman,
dengarlah pengakuan dosa saya.Dahulu saya pernah memperkosa seorang laki-laki,
entah siapa. Saya tertarik oleh matanya, mata yang terus berkilat, mengirimkan
cahaya-cahaya indah.Mata dia jauh lebih indah daripada kelereng mainan para
dewa.Malam harinya saya tertidur pulas, dan bermimpi.”
Dalam
mimpi, menurut ibu, ibu merasakan beban dosa yang amat berat, karena dia sedang
mengandung bayi tanpa ayah yang akan hidup tanpa mata. Tampaknya, ada bidadari
yang merasa iba kepada ibu.Bidadari ini segera terbang entah ke mana, dan dalam
waktu singkat sudah kembali dengan membawa sepasang mata indah.
“Ketahuilah,
wahai perempuan malang,” kata bidadari, “karena saya merasa amat sangat kasihan
kepada kamu, dengan sangat tergesa-gesa tadi saya mencomot mata seseorang.Saya
tidak tahu siapa dia. Apakah semasa masih hidup dia orang berhati mulia atau
sebaliknya, saya tidak tahu. Arwah dia masih melayang-layang, belum ditentukan
apakah dia akan tercebur ke neraka ataukah terangkat ke sorga. Saya hanya tahu,
wahai perempuan malang, bahwa mata dia luar biasa indah. Dan karena saya sudah
telanjur mencomot sepasang mata indah ini, tidak mungkin saya mengembalikan
kepada pemiliknya. Ketahuilah, dia tidak akan memerlukan mata lagi. Kalau
ternyata dia tercebur ke neraka, dia akan memperoleh mata baru, mata jahanam
sesuai dengan kebejatan hati dan tindakan dia selama dia masih hidup. Dan kalau
ternyata dia terangkat ke sorga, dia akan memperoleh sepasang mata baru yang
jauh lebih indah.”
Tepat
pada saat ibu akan mendesahkan nafas terakhir dalam hidupnya, saya berkata,
“Ibu, pergilah dengan damai. Sudah sejak dahulu saya memaafkan ibu.Bidadari
yang selama ini ibu harapkan, telah datang menjemput saya.”
Saya
yakin, ibu tidak sempat mendengar kalimat saya terakhir.
Surabaya, 8
Oktober 2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar