IA
tidak usah khawatir. Sekalipun kecibak air sungai, bahkan batu yang
menggelinding oleh kakinya di dalam air terdengar jelas, tapi tidak
seorang pun akan mendengar. Gelap malam dan udara dingin telah memaksa
para lelaki penduduk desa di atas menggeliat di bawah sarung-sarung
mereka. Para perempuan mendekami anak-anak mereka seperti induk ayam
yang ingin melindungi anaknya dari kedinginan.
Tidak
seorang pun di sungai, pencari ikan terakhir sudah pulang, setelah
memasang bubu. Bilah-bilah bambu yang menandai bubu itu muncul di atas
air, tampak dalam gelap malam itu. Tidak ada angin, pohonan menunduk
lesu setelah seharian berjuang melawan terik matahari. Ketika
perjalanannya sampai di persawahan, hanya kunang-kunang yang
menemaninya. Dan di ujung persawahan itu, ada gundukan tanah. Dalam
gundukan tanah itulah terletak kuburan-kuburan desa. Dia tinggal mencari
timbunan tanah yang masih baru. Kuburan itulah yang ia cari : seorang
perempuan telah meninggal pada malam Selasa Kliwon. Itu telah disebarkan
dari desa ke desa, seperti api yang membakar jerami kering di sawah.
Dengan
celana dan baju tentara yang lusuh, yang dibelinya dari tukang rombeng
di pasar, ia keluar rumah. Digulungnya baju itu ke atas, dan
menyembullah otot lengannya. Ia berjalan tanpa sandal. Di tangannya
adalah plastik hitam. Dalam gelap malam, plastik itu nyaris tak tampak.
Ada teplok di rumahnya, tapi lampu itu kalah dengan gelap malam.
“Ke mana, Kang?” Tanya istrinya, ketika dia keluar lewat tengah malam itu.
“Ronda”.
“Bukan harinya kok ronda?”
“Hh”
Ia
tahu orang desa akan menjaga kuburan itu sepanjang malam. Mereka akan
bergerombol di sekitar petromaks yang dibawa dari desa. Mereka akan
mendirikan atap dari daun kepala, mencegah kantuk dengan mengobrol atau
main kartu. Makan, makanan kecil, dan minum akan dikirim dari desa.
Tetapi itu pun tidak perlu dikhawatirkan. Ia telah membawa beras kuning
dari dukun dalam kantung plastik. Apa yang harus dikerjakan ialah
menabur beras itu di empat penjuru angin yang mengelilingi para penjaga
kubur. Selanjutnya, biarkanlah beras kuning itu bekerja.
Ia mengendap-endap dalam gelap. Terdengar dari jauh canda orang-orang di bawah bertepe, atap dari daun kepala itu.
“Mati
kau! Terimalah, ini as!” kata orang itu sambil membantingkan kartunya
di tikar plastik. Ia menaburkan beras kuning, tanda kemenangan, dan
mengucapkan mantra.
“Rem-rem
sidem premanen, rem-rem sidem premanen, rem-rem sidem premanen.”
Gurunya menyebut jimat itu dengan Begananda, aji penyirep yang
diturunkan oleh Raden Indrajit, pangeran dari Alengkadiraja. Begananda
telah menidurkan prajurit Rama, dan akan menidurkan orang-orang yang
menjaga kuburan. Setelah selesai satu arah, ia harus bergerak ke arah
lain. Setelah selesai dengan kiblat papat, arah yang keempat dan
orang-orang sudah tertidur, ia harus menaburkan beras kuning yang kelima
kali di pancer, pusat, tempat orang-orang menjaga. Ketika ia menaburkan
beras kuning yang kedua kalinya, terdengar kentong dipukul jauh di
desa. Beruntunglah ia, makam itu terletak di gundukan pinggir desa,
sehingga kentong itu tidak berpengaruh apa-apa pada penduduk desa yang
di makam itu.
Kentong
terdengar lagi ketika ia menaburkan beras ketiga kalinya. Ada
tanda-tanda bahwa orang mulai mengantuk. “Oahem suk ruwah mangan apem,”
kata seorang keras-keras, sambil menguap. Dan suara-suara mulai berhenti
ketika ia menaburkan beras keempat kalinya.
***
IA menunggu sebentar. “Sabar, sabar, bekerja itu jangan grusa-grusu,” katanya pada diri sendiri. Ia keluar dari gelap.
Dilihatnya
orang-orang sudah tertidur. Tempat itu seperti bekas orang bunuh diri
minum racun. Disebarnya beras kuning terakhir, dan mengucapkan mantera.
Orang-orang tertidur, dibuai mimpi indah yang tak ingin segera berakhir.
Seorang pemain kartu terlena, ditangannya masih ada setumpuk kartu yang
belum habis dibagikan. Semut yang menggotong butir nasi berhenti di
jalan, tertidur. Cengkerik berhenti berbunyi. Rumput-rumput menunduk
lesu. Kunang-kunang berhenti terbang dan mencari tambatan, tertidur di
seberang tempat. Angin berhenti mengalir. Laki-laki itu menuju petromaks
dan mematikannya.
Ia
mendekati kuburan baru. Beruntunglah dia, tanah itu berpasir. Dia harus
mengeduk kuburan itu dengan tangan telanjang, mengeluarkannya dan
menggigit telinga kanan-kiri dengan giginya, dan membawanya lari dengan
mulutnya ke rumah guru. Dia mencabut patok-patok, mulai menggali
timbunan itu. Ini adalah laku terakhir baginya. Dan yang akan membuatnya
kaya-raya telah memintanya bertapa tujuh hari tujuh malam, dan mencari
daun telinga orang meninggal pada hari Anggara Kasih. Pada hari kelima
pertapaannya di sebuah hutan yang gawat kelewat-lewat karena sangat
angker seluruh tubuhnya serasa dikeroyok semut. Dan hari keenam
dirasanya tempat itu banjir, membenamkannya sampai leher. Pada hari
terakhir ia dijumpai kakek-kakek dengan janggut putih, dan ditanyai apa
keinginannya. Ia sudah siap dengan air gula kelapa, yang akan dengan
cepat memulihkan tenaganya.
Pendek
kata, tujuh hari bertapa itu dia lulus. Dan sekarang ia menghadapi
ujian terakhirnya! Kuburan orang yang meninggal Selasa Kliwon akan
dijaga sampai hari ketujuh. Itulah sebabnya ia perlu bekal beras kuning
dari guru.
Tidak, bukan karena ia kemasukan setan, kalau ia bekerja keras menggali
kubur itu dengan tangannya. Karena dengan cara itulah ia akan bisa
mendandani istrinya dengan sepasang subang emas berlian di telinganya,
dan di tangannya melilit ular-ularan dari emas. Niatnya untuk mengganti
gigi kuning istrinya dengan emas sudah lama diurungkannya, karena
memakai gigi emas bukan zamannya. Anak-anaknya akan memakai sepatu ke
sekolah, dan uang SPP tidak akan menunggak. Ia akan membelikan truk
supaya keponakannya tidak usah ke kota. Dan adiknya yang bungsu, yang
jadi TKI di Bahrain, akan dipanggilnya pulang, sebab cukup banyak yang
bisa dikerjakan di rumah. Lebih dari segalanya, ia akan pergi pada lurah
dan menyerahkan tanahnya yang seperempat hektar dengan gratis yang
semula dipatok dengan harga lima ratus rupiah semeter untuk pembangunan
lapangan golf. Ia akan membuka warung-warungan di rumahnya, sekedar
untuk menutupi kekayaannya yang bakal mengucur tanpa henti. Benar,
mungkin warungnya tidak laku, tapi uang di bawah bantalnya takkan pernah
kering. Namun kalau terpaksa mencuri, akan dimintanya danyang hanya
mencuri harta orang-orang kaya yang serakah. Setelah kaya, dia akan
berhenti mempekerjakan danyangnya.
Sekalipun jari-jarinya kasar oleh kerja serabutan sebagai kuli,
menggali kuburan dengan tangan itu membuat jari-jarinya sakit. Keringat
yang keluar dari tubuhnya yang panas karena bekerja di ruangan sempit
itu mengalir ke jari-jarinya dan terasa perih. Tetapi hal itu tidak
dirasakannya. Eh, dalam benar mereka menggali. Peti kayu itu sudah
tampak. Kaya juga orang ini, pakai keranda segala, pikirnya. Kayu-kayu
dibuangnya. Dan sebagian tanah itu berguguran dan menutup mayat. Agak
kesulitan dia mengeluarkan mayat itu, karena lubangnya sempit dan gelap,
sinar bintang tertutup oleh tanah, dan dia tidak bisa berdiri di situ
tanpa menginjak mayat. Akhirnya, dengan kedua kakinya mengangkang dia
merenggut kain kafan mayat dan berusaha mengangkat. Mayat itu masih
baru, bau kapur barus, amis, dan bau tanah bercampur kapur. Dia tidak
peduli mayat itu rusak waktu dinaikkan.
Mayat itu dingin dan kaku. Dia berhasil mengangkat mayat itu, tetapi
ruangan terlalu sempit baginya untuk menggigit dua telinganya. Ia
memutuskan untuk menaikkan mayat itu. Dan mayat itu tergeletak di tanah.
Dengan cekatan dibukanya kain kafan yang menutupi kepala. Eh, rupanya
rambut perempuan itu terlalu panjang dan menutupi telinganya. Pada waktu
itulah dia mendengar baung anjing untuk pertama kalinya. Suara anjing
itu panjang dan berat, memecah kesunyian malam, menambah betapa
keramatnya malam itu karena suara itu dipantulkan oleh pohon-pohon, oleh
bambu berduri yang mengelilingi desa, oleh sumur-sumur berlumut, dan
rumah-rumah tembok.
***
DITERANGI bintang-bintang di atas ia dapat melihat dua ekor anjing,
seekor putih dan seekor tidak putih, menunggui dia bekerja. Sekalipun
matanya tidak bisa melihat, tapi dia tahu bahwa anjing-anjing itu
menjulurkan lidah, meneteskan air liur, dan memperlihatkan taring. Dia
berpikir mungkin itu anjing siluman, sebab ia lupa bersila khidmat,
“Demi periprayangan yang mbaureksa makam, jangan diganggu, izinkanlah
cucumu bekerja.” Diucapkannya kalimat itu tiga kali. Tetapi anjing itu
malah bertambah, jadi empat. Ia dapat melihat dalam temaram
anjing-anjing itu menantikan kesempatan. Tahulah ia, bahwa bekerja
cepat.
Ketika ia membungkuk, mau menggigit telinga, seekor anjing menyambar.
Dia membatalkan niatnya, menggunakan tangan untuk mengusir anjing itu.
Anjing yang tiga ekor berusaha merobek kain kafan dengan moncongnya dan
cakarnya. Dia menggunakan sebelah kakinya untuk mengusir anjing-anjing
itu. Didengarnya ada anjing-anjing lain menggonggong di pinggir makam.
Mereka segera menyerbu mayat.
Celaka, anjing itu menjadi tujuh ekor. Mereka tidak memberi kesempatan
baginya untuk menggigit telinga lagi. Sementara itu jari-jari tangannya
yang terluka, mungkin oleh kerikil-kerikil tajam terasa pedih. Tapi dia
tidak mau mundur. Setiap kali ia mau menggigit telinga ada saja
mengganggunya. Kalau saja anjing-anjing itu mau diajak berdamai,
sebenarnya dia hanya butuh dua telinga, selebihnya biarlah untuk
anjing-anjing itu. Dia mau bilang pada anjing-anjing bahwa bagian kepala
itu kebanyakan hanya tulang, kalau mau bagian yang berdaging, pahalah
tetapi jangan kepala. Biarlah bagian penuh tulang itu untuk bangsa
manusia, untuk bangsa hewan ya bagian yang berdaging. Tetapi
anjing-anjing itu tidak mau berkompromi. Kain kafan itu robek-robek oleh
moncong dan cakar anjing.
Sebagai orang desa matanya terbiasa dengan malam. Jelas terlihat bahwa
daging di bagian paha mayat mulai robek. Dia melupakan urusan telinga
itu. Yang akan dikerjakan ialah mengusir anjing-anjing, yang mungkin
binatang liar yang tak tahu aturan. Jari-jarinya mulai mengeluarkan
darah. Ia menahan rasa sakitnya, dan mempergunakan tangan dan kakinya
untuk menyerang binatang-binatang itu. Dia ingat bahwa ada patok kayu di
kepala dan kaki kuburan. Ditemukannya kayu-kayu itu. Dia mengamuk
dengan kayu-kayu itu di tangan. Ternyata hasilnya lumayan. Anjing-anjing
itu menepi dari mayat.
Itu memberinya kesempatan untuk kembali membungkuk. Yang dikerjakannya
sederhana : menggigit telinga-telinga dan pergi. Tetapi anjing-anjing
liar itu tidak memberi kesempatan. Begitu ia tidak memperhatikan mereka
dan membungkuk, anjing-anjing mulai menyambar lagi. Rupanya ia harus
mengusir anjing-anjing agak jauh. Dan dengan kayu dan “sh sh sh” ia
berhasil mengusir mereka lebih jauh. Lagi, anjing-anjing itu menyerbu
waktu ia membungkuk.
Darah di jari-jarinya menderas, membasahi kayu-kayu di tangannya.
Matanya berkunang-kunang, dan ia merasakan badannya mulai lemas. Dan
anjing-anjing itu semakin galak. Mereka tidak lari ke pinggir, tapi
menahan kesakitan oleh pukulan-pukulan kayu yang makin lemah.
Suara-suara mereka yang gaduh dan lolongan– sebagian lolongan karena
kesakitan – telah membangunkan orang-orang yang menjaga kuburan.
Orang-orang itu masih sempat melihat dia mengayunkan kayu, sebelum
akhirnya ia terjatuh, tak sadar. Anjing-anjing itu menyelinap ke balik
kegelapan ketika melihat banyak orang datang. Mereka memandangi mayat
dan laki-laki pingsan itu.
“Pencuri!” kata seorang.
“Penyelamat!” kata yang lain.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar