Ia memijit nomor satu nol tiga. Terdengar suara operator dari seberang,
"Waktu menunjukkan pukul tujuh belas, nol menit, dan dua puluh tiga
detik."
Lalu manakah yang lebih benar. Penunjuk waktu atau gejala alam? Nayla menambah kecepatan laju mobilnya. Kemudi di tangannya terasa licin dan lembab akibat telapak tangannya yang mulai basah berkeringat.
Ia harus menemukan seseorang untuk memberinya informasi waktu yang tepat. Tapi jika Nayla berhenti dan bertanya, berarti ia akan kehilangan waktu. Sementara masih begitu jauh jarak yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan. Nayla sangat tidak ingin kehilangan waktu. Seperti juga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat ia kerjakan.
Namun Nayla pada akhirnya menyerah. Ia menepi dekat segerombolan anak-anak muda yang sedang nongkrong di depan warung rokok dan menanyakan jam kepada mereka. Tapi seperti yang sudah Nayla ramalkan sebelumnya, jawaban dari mereka adalah sama, jam lima petang. Hanya ada sedikit perbedaan pada menit. Ada yang mengatakan jam lima lewat lima, jam lima lewat tiga, dan jam lima lewat tujuh.
Nayla semakin menyesal telah membuang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah ia yakini jawabannya, yaitu jam lima petang. Berarti benar ia masih punya banyak waktu. Sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah menjadi abu.
***
Entah kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat
dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan
mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang
berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang
satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir
abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah
belati.
Sebelumnya Nayla begitu akrab dengan waktu. Ketika cincin melingkar agung di jari manisnya. Ketika tendangan halus menghentak dinding perutnya. Menyusui. Memandikan bayi. Bercinta malam hari. Menyiapkan sarapan pagi-pagi sekali. Rekreasi. Mengantar anak ke sekolah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Memarahi pembantu. Membuka album foto yang berdebu. Mengiris wortel. Pergi ke dokter. Menelepon teman-teman. Berdoa di dalam kegelapan. Doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini ia idam-idamkan.
Kala itu, waktu adalah pelengkap, sebuah sarana. Mempermudah kegiatannya sehari-hari. Menuntunnya menjadi roda kebahagiaan keluarga. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam orang tua, kakek, nenek dan leluhur. Membeli hadiah Natal, ulang tahun dan hari kasih sayang. Mengirim pesan sms kepada si Pencari Nafkah supaya tidak terlambat makan. Memperkirakan lauk apa yang lebih mudah dimasak supaya tidak terlambat menjemput anak di tempat les. Bercinta berdasarkan sistem kalender, kapan sperma baik untuk dimasukkan dan kapan lebih baik dikeluarkan di luar.
Waktu bukanlah sesuatu yang patut diresahkan. Karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enam ratus detik kali dua puluh empat jam. Gerakan mekanis rutinitas kehidupan. Menggelinding di atas jalan bebas hambatan. Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesin tik membahana dalam kamar yang lengang. Riuh rendah suara karyawan di kafetaria gedung perkantoran. Ngeceng di Plaza Senayan. Mengeluh bersama sahabat tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotik. Menghapus air mata yang menitik. Melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goreng kambing ramai-ramai dalam mobil di pinggir jalan. Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton Formula One atau Piala Dunia di Sports Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Bersentuhan tangan ketika memasangkan celemek di paha kekasih dengan tangan bergetar. Menanti dering telepon dengan hati berdebar. Memilih kartu ucapan rindu yang tidak terlalu norak tanpa lebih dulu menunggu hari besar datang dengan dada berdebar. Memilih baju terbaik setiap ada janji dengan pacar dengan jantung berdebar. Menanti pujian dengan rasa berdebar. Bercinta dengan rasa, jantung, dada, hati, tangan, kaki, payudara, vagina, leher, punggung, ketiak, mata, hidung, mulut, pipi, raga, berdebar.
Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudera getar, cakrawala harapan.
***
Mungkin
Nayla tidak bermaksud dengan sengaja melupakan, ia hanya tidak sadar.
Ia hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. Ia hanya terhipnotis
bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan.
Membuat raganya beku. Lidahnya kelu. Hatinya membatu. Imajinasinya
buntu. Kadang dalam tidur imajinasinya memberontak terbang. Mengepakkan
sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu. Mengendarai ikan paus
di samudera lepas. Bungy jumping. Arung jeram. Baca komik
Petualangan Tintin. Minum teh di atas awan sambil diskusi tentang cerpen
Anton Chekov dengan almarhum ayah dan bertanya mana yang lebih mahal
antara berlian dengan Fancy Diamond kepada almarhumah ibu. Menjadi
Arnold Schwarzeneger dan menggagalkan aksi teroris yang hendak
menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Menelan biji durian.
Makan rambutan. Nonton Cirque du Soleil. Nonton N'SYNC dan dipanggil ke
atas panggung untuk diberi kecupan oleh Justin Timberlake. Bertinju
dengan Moehammad Ali. Mengalahkan Michael Jordan. Merebut suami Victoria
Beckham. Mengedit karya Gabrielle Garcia Marques. Minum sirup markisa.
Baca puisi bareng Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Diculik UFO.
Punya toko buku kecil di Taman Ismail Marzuki.
Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan.
***
Manusia sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan
hukuman ini akan dilaksanakan. Karena itu Nayla tidak tahu mana yang
lebih layak, merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi ia sudah tidak
perlu lagi bertanya-tanya kapan eksekusi akan dilaksanakan.
Tapi apakah setahun yang dokter maksudkan adalah 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari dari sekarang? Bagaimana kalau satu tahun dimulai dari ketika kanker itu baru tumbuh. Atau satu minggu sebelum Nayla datang ke dokter. Atau mungkin benar-benar pada detik ketika dokter itu mengatakan satu tahun. Lalu berapa lamakah waktu sudah terbuang? Dari manakah Nayla harus mulai berhitung?
Mata Nayla berkunang-kunang. Perutnya mulai terasa sakit seiring dengan bunyi dari segala bunyi jam, berdetak keras memekakkan telinganya. Satu, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta detik mengejar dan mengepung pendengarannya ke mana pun Nayla melangkah. Memaksa mata Nayla menyaksikan lalu lalang kaki-kaki bergegas, suara klakson dari pengendara yang tak sabaran, lonceng tanda masuk sekolah, jutaan tangan karyawan memasukkan kartu ke dalam mesin absen, aksi dorong mendorong masuk ke dalam bus, tubuh-tubuh meringkuk di atas atap kereta api, semua orang tidak mau ketinggalan.
Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak lagi punya kesempatan, untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Matahari yang bersinar tidak terlalu cerah. Awan berbentuk mutiara, semar atau gajah. Kelopak bunga mulai merekah. Kaki anjing pincang sebelah. Semut terinjak-injak hingga lebur dengan tanah. Padi menguning di sawah. Burung bercinta di atas rumah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah.
Sejak saat itu, alarm Nayla tidak pernah berhenti berbunyi.
***
Nayla ingin menunda waktu. Nayla ingin mengulur siang
hingga tidak kunjung tiba malam. Nayla ingin merampas bulan supaya
matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam
hingga suara alarmnya bungkam. Nayla ingin menunda kematian. Tapi Nayla
selalu terlambat. Nayla selalu berada di pihak yang lemah dan kalah akan
rutinitas yang tak mau menyerah. Dan ia mulai merasa kewajibannya
sebagai beban.
Ia mulai cemburu pada orang-orang yang masih dapat berjalan santai sambil berpegangan tangan. Atau orang-orang yang berjemur di tepi kolam renang sambil membaca koran. Ketika, ia tergesa-gesa menyiapkan air hangat, sarapan dan seragam. Berdesakan di antara hiruk pikuk suara dan keringat dalam pasar. Memastikan pendingin ruangan belum saatnya dibersihkan. Membayar iuran telepon dan listrik bulanan. Memberi makan ikan. Memberi peringatan berkali-kali pada pembantu yang tidak juga mengerjakan perintah yang sudah diinstruksikan. Mengikuti senam seks dan kebugaran. Menjadi pendengar yang baik bagi suami yang berkeluh-kesah tentang pekerjaan. Memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam sebulan. Menyimpan kekecewaan ketika anak sudah tidak lagi mau mengikuti nasihat yang seharusnya diindahkan.
Dan masih saja ada yang kurang. Masih ada saja yang tidak sempurna. Sarang laba-laba di atas plafon. Terlalu banyak menggunakan jasa telepon. Buah dada yang mulai mengendur. Vagina yang tidak lagi lentur. Terlalu letih hingga tidur mendengkur. Seragam sekolah yang luntur. Kurang becus mengatur keuangan. Terlalu banyak pemborosan. Kurang peka. Kurang perhatian. Kurang waktu.... Waktu.... Waktu.... Waktu.... Waktu...?!
Bahkan Nayla merasa sudah tidak punya waktu untuk sekadar memanjakan perasaan. Tidak nongkrong bersama teman-teman. Tidak belanja perhiasan. Tidak pergi ke klab malam. Tidak dalam sehari membaca buku lebih dari dua puluh halaman. Tidak lagi nonton film layar lebar di studio Twenty One. Tidak lagi mengerjakan segala sesuatu yang baginya dulu merupakan kesenangan. Nayla mulai merasakan dadanya berdebar. Semangatnya bergetar.
Ia ingin menampar suaminya jika membela anaknya yang
kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ia ingin
bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-ipar. Ia ingin berjemur
di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang
bercinta dengan posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak
Dennis Rodman. Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet.
Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang
masing-masing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua
mangkok besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu
malam.
***
Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar