Ada tragic sense of life, ada comic sense of life. Mereka yang
menganggap hidup sebagai tragedi, memandang dunia serba suram, diwakili
oleh teman saya Nurhasan. Dia yang tinggi akan melonjok sedikit dan
mencapai langit-langit kamar tamu rumah bertingkat yang kami banggakan,
“Lha betul to, Perumnas itu ya begini. Tinggi setidaknya empat meter
supaya ruangan sejuk.” Mengenai genteng dikatakannya, “Kok dari asbes.
Mereka ingin semua penghuni Perumnas kena kanker.” Mengenai dunia
dikatakannya-menirukan dalang. “Jaman sudah tua, perempuan jual badan,
anak lahir tanpa bapak, orang suci dibenci, orang jahat diangkat, orang
jujur hancur.” Melihat ada rumah mewah di Perumnas, dia akan bilang,
“Lihat orang-orang kaya mendepak keluar orang-orang miskin.”
Mendengar
ngoèng-ngoèng mobil pejabat, dia akan berkomentar, “Dengar itu sang
menteri korup lewat.”
Lain lagi teman saya Kaelani yang
memandang hidup sebagai komedi, sebuah lelucon. Dia adalah pemborong: SD
Inpres, jalan aspal, talud sungai. Di mana-mana: mantenan, tirakatan 17
Agustusan, katanya sambil ketawa, “Pemborong itu harus jadi pembohong.”
Gedung retak, aspal mengelupas, tanah longsor, semua ditertawakannya.
“Ya, kalau rusak diproyekkan. Semua senang, DPRD, kepala dinas, dan
tentu saja pembohongnya, eh, pemborongnya”. Katanya lagi, “Pemborong itu
masuk sorga tanpa dihisap.” Dihisap artinya dihitung baik-buruk
amalnya. Sambungnya, “Apa sebab? Karena ia suka berbohong untuk
menyenangkan orang.”
Akan tetapi, keduanya sangat lain dengan kasus Pak Dwiyatmo versus
Said Tuasikal di Jalan Belimbing (keluarga kami menyebutnya sebagai
Jalan “Asmaradana”. Asmara artinya cinta, dana singkatan dari dahana
artinya api). Itu adalah tragi-comedy yang mengganggu karier saya
sebagai Ketua RT.
Mohon diketahui bahwa selepas tugas belajar saya tinggal di Perumnas,
bagian perumahan dosen. Sebagai orang paling terpelajar, saya didaulat
teman-teman jadi Ketua RT, menggantikan Pak Trono yang pindah. Tentu
saja saya menolak dengan banyak alasan: sering tak di rumah, mengajar di
sana-sini, pekerjaan kantor bermacam-macam, masyarakat besar
membutuhkan tenaga saya. Tentu saja tidak saya katakan bahwa akan segera
dipromosikan ke Jakarta.
“Bapak tidak usah repot, Ketua RT itu hanya kedudukan simbolis,” kata
seorang pemondok dengan bahasa sekolahan. Dia sedang sekolah S2.
Dia pasti tidak tahu bahwa pekerjaan Ketua RT itu jabatan paling
konkret di dunia: mengurus PBB, semprotan DB, kerja bakti membersihkan
selokan, menjenguk orang sakit, pidato manten, dan banyak lagi. Presiden
bisa diam, Ketua RT tidak.
“Jangan khawatir, urusan RT adalah urusan bersama,” kata seseorang.
“Gotong-royong kita sangat bagus.”
“Kita masih punya semangat empat-lima.”
Setelah semua mendesak, kata saya, “Saya terima pekerjaan ini, dengan
satu syarat. Ketua RT itu tugas kolektif keluarga. Saya dan istri.
Kalau saya di rumah, saya akan aktif, kalau tidak, istri yang
mengerjakan.”
Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya Ketua RT
berijazah S3 dari universitas papan atas di Amerika. Dan Ibu Pertiwi
punya pengganti Pak RT, istri saya, lulusan universitas Kota New York.
Sekali-sekali rapat bulanan RT saya pimpin, sekali-sekali istri saya.
Test-case yang pertama-apakah doktor luar negeri bisa jadi Ketua
RT-ialah mengurus perkara Pak Dwiyatmo dan Said Tuasikal. Mereka tinggal
satu kupel, dinding dari asbes menyekat RS mereka yang masih asli itu.
Pak Dwiyatmo adalah penghuni lama, Said dan istri menyewa rumah
sebelahnya untuk lima tahun sampai selesainya program S3. Said berasal
dari Ambon, dibiayai APBD untuk sekolah.
Pasangan Said orangnya baik. Said ikut ronda, dan istrinya ikut
arisan. Dari poskamling dan arisan itulah warga tahu keluhan-keluhan
mereka tentang Pak Dwiyatmo yang secara tidak sengaja dikatakan. Sebagai
warga yang baik, mereka berdua datang untuk mengenalkan diri kepada
Ketua RT yang baru secara formal.
“Beta orang Ambon, istri beta orang Jawa.”
“Dan anak Mas Said jadi Jambon. Itu warna pink, warna cinta.” Jadi ada Jadel, ada Jamin, ada Jambon.
“Memang kami cinta Indonesia,” katanya serius, tidak tahu kalau saya hanya berkelakar.
“Setidaknya kamu cinta perempuan Jawa.”
“Bukan setiap perempuan Jawa, Bapak, tapi Jawa yang ini.” Terlihat istrinya menyikut suami.
Singkatnya, Pak Dwiyatmo dianggap membuat bising. Sebab, larut malam
malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu,
thok-thok-thok. Tak seorang pun tahu apa yang dikerjakannya. Siang hari
pintu rumahnya tertutup karena pergi. Malam hari juga tertutup, karena
itu saran dokter puskesmas. Maka ia absen di semua kegiatan kampung.
Tapi bunyi malam-malam itu! Dan Said berdua yang pasangan pengantin baru
perlu malam yang sepi! Entah untuk apa.
Namun, wong sabrang yang biasanya thok-leh dan bernama Said itu, tak
pernah menegur secara langsung Pak Dwiyatmo perihal kelakuannya.
Istrinya melarang dia. Katanya, “Orang Jawa itu jalma limpat, dapat
menangkap isyarat.” “Ya kalau iya, kalau tidak, bagaimana?” bantah
suaminya.
“Tunggu saja.” Mereka menunggu, tapi tiap larut malam
thok-thok itu masih terdengar, membuyarkan harapan indah mereka di
tempat tidur. Maka, perseteruan diam-diam itu berjalan terus.
Memang, para tetangga bilang kalau ada yang aneh pada Pak Dwiyatmo
setelah istrinya meninggal. Dia, yang dulu rajin, tidak lagi ke masjid.
Sebagian orang masjid mengatakan ia tidak qana-ah, artinya tidak ikhlas
menerima takdir Tuhan, itu sebabnya ia protes kepada-Nya
(Allahumaghfirlahu, semoga Allah mengampuninya. Semoga dipanjangkan
umurnya sehingga ia sempat bertaubat). Sebagian lain mengatakan bahwa ia
selalu sembahyang di sungai dekat pemakaman Tegalboyo, sudah itu
membuka bungkusan dan makan. Sebagian lagi mengatakan setiap Jumat ia
pergi sembahyang di masjid Ploso Kuning. Ada yang mengatakan bahwa ke
masjid di Perumnas akan melukai hatinya, sebab ia selalu pergi jamaah
bersama istrinya dulu. Saya tidak tahu mana yang benar.
Pagi hari dia akan terlihat membawa cangkul. Kabarnya ia sudah
memesan “rumah masa depan” di pekuburan Tegalboyo, di samping kuburan
istrinya. Soal liang kubur itu urusan Pak Dwiyatmo, itu HAM. Dan saya
sebagai Ketua RT tak pernah punya waktu untuk menegur Pak Dwiyatmo
tentang thok-thok itu. Hari Minggu pun pagi-pagi sekali ia akan memikul
cangkul, mengunci pintu, siang pulang, mengunci pintu, dan tidur sampai
sore.
Paling mudah ialah mendatangi Said, “Mas Said, di Jawa ini orang
perlu hidup rukun. Pandai menyesuaikan diri seperti kalian berdua.
Ajur-ajer”. Tampak Said tidak tahu arah pembicaraan saya. Istrinya yang
menjawab.
“Orang sebelah itu pasti punya kelainan, Pak.”
“O ya, Bapak. Suara-suara itu sungguh mengganggu!” timpal suaminya.
“Ya pindah rumah, to. Kok sulit-sulit.”
“Ininya, Bapak,” katanya sambil menggosokkan ibu jari ke telunjuk.
Suatu pagi saya bersama istri jalan-jalan. Di pintu gerbang RT kami bertemu Said berdua, berdandan rapi.
“Pagi-pagi sekali, dari mana?”
“Ala Bapak ini bagaimana, Proyek Jambon, tentu”.
“Lho, kok?”
“Kami selalu ke hotel, tenang. Tapi tidak tahu sampai kapan kami tahan.”
Kami baru saja tahu apa yang dikerjakan Pak Dwiyatmo di malam hari.
Pasalnya begini. Anak-anak Perumnas sedang main sembunyi-sembunyian.
Kebetulan pintu rumah Pak Dwiyatmo terbuka, dia tertidur di kamar karena
kelelahan mencangkul itu. Beberapa anak laki-laki masuk rumah dan
bersembunyi di dalam meja-mejaan Pak Dwiyatmo yang ditutup dengan kayu.
Aman.
“Di mana kalian? Kami kalah.”
Mereka membuka tutup meja-mejaan, “Sini!” Lalu menutupnya kembali.
“Di mana?”
“Sini!”
Berulang-ulang.
Tiba-tiba seorang mengerti arah suara itu. Lalu lari tunggang
langgang sambil menjerit-jerit. Anak-anak dalam meja-mejaan itu keluar
dan ikut lari dan menjerit-jerit. Orang-orang di gang itu pun keluar.
Mereka pergi ke rumah Pak Dwiyatmo. Masya Allah! Keranda! Keranda!
Suami-istri Said ikut keluar. Keranda! Sejak itu keluarga Said
menghilang.
Beberapa hari kemudian Ketua RT dapat panggilan dari Pengadilan
Negeri. Saya berhalangan, yang datang Bu RT alias istri saya. Di kantor
pengadilan istri saya menunjukkan surat panggilan itu.
“Panggilan itu untuk Ketua RT. Tidak bisa diwakilkan begitu saja.”
“Saya penggantinya. Ini Surat Kuasa.”
“Kalau begitu, tunggu.” Ia masuk ruangan.
Ketua Pengadilan atau yang mewakili keluar.
“Begini, Bu. Ini ada gugatan untuk Pak Dwiyatmo karena ia mengganggu
ketertiban. Tolong diselesaikan dengan damai, tanpa melalui pengadilan.”
Melihat keranda itu rupanya Said atau istrinya jadi betul-betul tidak
tahan. Pantas mereka kabur dan menggugat lewat pengadilan. Mereka
berpikir bahwa paling-paling Ketua RT menyarankan agar mereka
menyesuaikan diri, karena saya tidak juga menegur Pak Dwiyatmo. Saya
merasa bersalah. Sungguh mati, saya tidak tahu kalau Pak Dwiyatmo sedang
membuat keranda.
Saya sedang mencari waktu luang untuk bertemu Pak Dwiyatmo, ketika
tiba-tiba ada perubahan besar. Masalah keranda yang sudah diketahui umum
itu membuatnya berhenti bekerja sama sekali. Dia tidak lagi thok-thok
di waktu malam, tidak lagi memanggul pacul di siang hari. Pekerjaannya
ialah menyapu-nyapu halaman, lalu leyeh-leyeh di lincak di depan
rumahnya.
Saya menghubungi Pascasarjana UGM dan mendapat alamat Said. Saya
menghubungi Said, mengatakan bahwa tidak ada lagi gangguan ketertiban.
Dengan malu-malu Said jadi warga RT kembali. Ketika minta maaf kepada
saya karena telah merepotkan, dia membawa sebotol minyak kayu putih.
Pak Dwiyatmo sedang menyapu-nyapu halaman ketika lewat seorang perempuan setengah baya.
“Kok menyapu sendiri, Pak?”
“He-eh, tidak ada yang disuruh.”
Lain hari perempuan itu lewat lagi.
“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti lelah, lho.”
“He-eh, habis bagaimana lagi.”
Lain hari perempuan itu sengaja lewat.
“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti kalau lelah yang mijiti siapa?”
“Ya tidak ada.”
Lain hari perempuan itu sengaja lewat lagi. Tangannya menggenggam balsem. Pak Dwiyatmo juga sedang menyapu.
“Kok menyapu sendiri, Pak. Kalau lelah, apa mau saya pijit?”
“Mau saja.”
Singkatnya, mereka berdua lalu pergi ke KUA untuk menikah. Mereka
jalan-jalan bulan madu kedua ke Sarangan. Saya tahu karena suami-istri
minta titip rumah pada Ketua RT. Tumben, ada keceriaan di wajah Pak
Dwiyatmo yang selama ini belum pernah saya lihat. “Mau kuda-kudaan, ya?”
maksudnya, naik kuda keliling danau. “Ah, Bapak ini kok tahu saja,”
kata istri sambil menjawil suami. Sesudah mereka pergi, saya menemui
Said. “Selamat, kamu bebas,” kata saya. “Terima kasih, Bapak,” kata
Said. Istrinya senyum-senyum malu.
Damailah RT, damailah Indonesia! Seminggu kemudian Pak Dwiyatmo
berdua pulang. Tapi, apa yang terjadi? Petugas Siskamling yang menjemput
jimpitan beras mengatakan bahwa mereka mendengar suara “aneh” di rumah
(tepatnya di kamar) Pak Dwiyatmo. Siang hari Pak Dwiyatmo menggergaji
keranda itu dan menjadikannya meja-kursi. Ini saya tahu karena saya
datang untuk mengunjungi mereka yang temanten baru. Saya juga tahu yang
lain. Istri baru itu sedang memotong-motong kain putih calon kain kafan
Pak Dwiyatmo. “Ya, itulah yang terjadi,” kata Pak Dwiyatmo membenarkan
pikiran saya. Lho! Saya sembunyikan keheranan bahwa dia tahu pikiran
saya.
Seminggu kemudian Said datang ke rumah. “Coba, Bapak. Kami sedang mau
tidur, tiba-tiba dari kamar sebelah, kami mendengar suara-suara. Ah,
beta malu mengatakannya.” Sementara itu, petugas Siskamling melaporkan
bahwa suara “aneh” itu pindah ke kamar tamu yang berdempetan dengan
kamar tidur di rumah sebelah. Klop!
Saya mencoba menyarankan Said untuk melapisi dinding-dinding dengan
gipsum yang kedap suara. “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau beta kaya
pasti sudah menyewa rumah di luar Perumnas”. Istrinya menyambung, “Maaf,
kalau kata-kata suami saya menyinggung Bapak.” Saya usul, “Kalau
begitu, bagaimana kalau kamar tamu diubah jadi tempat tidur?” Katanya,
“Ya, besoknya lagi Bapak akan menyarankan kami tidur di halaman.” Lagi
istrinya memintakan maaf suaminya. Kemudian lain hari keluarga Said
pergi lagi, meninggalkan surat. “Tolong beri tahu beta kalau tetangga
sebelah sudah dipanggil Allah.”
Lain dari biasanya, pagi-pagi saya dapat pergi berjamaah ke masjid.
Di sana saya bertemu Pak Dwiyatmo. Subhanallah! Saya terkejut. Ia
menoleh dan berkata, “Betul saya Dwiyatmo.” Katanya lagi, “Saya berdosa,
saya khilaf, saya bertaubat.” Ia melanjutkan sambil sama-sama jalan
pulang, “Orang hidup ini harus seperti iklan. Ia berenang-renang di
laut, tapi tak pernah jadi asin.” Saya sedang berpikir mungkin sudah
waktu untuk mencari Said dan minta dia kembali ke Jalan “Asmaradana”,
ketika orang-orang Siskamling mengatakan bahwa suara-suara “aneh” itu
berjalan terus. Itukah “berenang-renang”? Wallahualam. Saya mau menegur
Pak Dwiyatmo, tetapi rasanya tidak pas. Menyuruh keduanya berunding
untuk menyelesaikan perseteruan diam-diam itu, jangan-jangan malah jadi
perseteruan terbuka. Jadi saya hanya bagaimana-bagaimana sendiri.
Walhasil, saya gagal jadi Ketua RT, gagal mendamaikan Pak Dwiyatmo
dan Said. Saya, doktor ilmu politik berijazah luar negeri! Entah apa
yang akan saya katakan pada Said kalau kebetulan ketemu di kampus. Saya
juga menghindar setiap mau ketemu orang yang saya persangkakan dari
Ambon, nyata atau khayalan, hidup atau mati, di mana saja. Saya sangat
malu. Leiriza, Luhulima, Tuhuleley, Patirajawane, Raja Hitu, sepertinya
semua berwajah Said Tuasikal.
Saya juga gagal memahami Pak Dwiyatmo. Saya sudah pergi ke empat
benua untuk belajar, riset, seminar, dan mengajar. Tetapi, bahkan
tentang tetangga saya, Pak Dwiyatmo, saya tidak tahu apa-apa. Pak
Dwiyatmo, Pak Dwiyatmo. Manusia itu misteri bagi orang lain.
Tiba-tiba saya merasa bodoh, sangat bodoh. *
Yogyakarta, 23 Februari 2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar