Batara alias Batre gemar menyelenggarakan smokol secara cermat dan
meriah sebulan sekali, atau dua kali—tergantung ilham yang didapatnya
dari kunjungan sesekali Peri Smokol. Menurut Batara, peri yang berasal
dari Manado ini adalah penguasa dan pelindung smokol (makan tanggung di
antara sarapan pagi dan makan siang), pemasak smokol (Batara sendiri),
dan kelompensmokol (kelompok penikmat smokol; beranggotakan Batara,
Syam, si kembar Anya dan Ale). Tapi ketiga temannya curiga peri ini cuma
hasil rekaannya. Ale yang pernah ke Manado, melaporkan sesungguhnya
orang Minahasa menyantap tinutuan (bubur Manado) beserta pisang goreng
dan teri goreng yang ditaruh di tepi piring dan dicelup-celupkan ke
dalam dabu-dabu (sambal yang pedas bukan main hingga bisa bikin orang
menangis diam-diam, kuping berdenging, dan untuk beberapa yang rentan,
niscaya berhalusinasi).
Tapi bagi Batara, smokol tidaklah
sesederhana itu. Dengan imajinasi yang berlebih dan gelora bagi
kesempurnaan segala sesuatu, Batara selalu muncul dengan smokol bertema
aneh dengan makanan aneh-aneh. Ketiga temannya tak pernah bisa menduga
apa yang akan terhidang di meja.
Suatu hari, misalnya, ia merekonstruksi menu ’Santap Malam dengan
Trimalchio’, dan memulai dengan apologia. ”Sori, teman-teman, secara
keseluruhan, ini lebih bersahaja, tidak seambisius Petronius.” Tak hanya
terilhami novel atau buku masakan, juga esai—padahal pada paragraf
pertama, sang esais telah memperingatkan bahwa resep anak domba
sepanjang 13 halaman itu tak pernah sukses dicoba. Di kali lain, ia
menghidangkan makanan warna kuning dan hijau saja, atau hanya
menyuguhkan rebusan teh putih langka dalam teko dan cawan keramik
rompal. Suatu kali ia sibuk menggelar tikar di halaman belakang, tema
hari itu adalah piknik makan patita ala Ambon di pinggir pantai
imajiner. Ketiga temannya juga bisa terkecoh dengan judul makanan yang
terdengar megah, semisal ’Gnocchi di patate alla crema delicata di
Gorgonzola’, yang ternyata cuma kentang rebus bentuk bola-bola.
Begitulah, Batara menyapu berbagai waktu dan negeri: dari Zaman
Pertengahan hingga Nouvelle Cuisine tahun ’80-an, dari Raja Richard II
sampai Oma Sjanne yang tinggal di Tomohon.
Seingat ketiga temannya, hanya satu kali Batara menyajikan smokol betulan.
Bagi mereka, santap smokol adalah hari ideal yang penuh kebahagiaan.
Mereka selalu menanti-nantikan hari Sabtu terjadinya peristiwa makan
besar ini. Biasanya di malam sebelumnya mereka tidak terlalu banyak
makan, tidak berulah macam-macam yang bisa mengakibatkan sakit gigi atau
gangguan pencernaan, dan berangkat tidur lebih awal. Mereka tiba di
rumah Batara pada pukul sembilan pagi, smokol terhidang pada pukul
sepuluh, lalu sedikit minum-minum pukul satu-dua siang sambil menunggu
hidangan kue-kue kecil dan kopi pada pukul empat sore, makan malam
pasca-smokol pukul enam, minum-minum dengan camilan sekadarnya pada
pukul 10 malam, lalu makan pasca-pasca-smokol di tengah malam.
Di saat smokol inilah Batara tampil dalam kebesaran dan kemegahan
kuasa kedewaannya. Tak hanya seperti dewa koki, ia juga menjelma seorang
oma bawel bercelemek yang repot betul dengan berbagai-bagai masakan
yang telah dipersiapkannya sedari pagi secara teliti, murah hati dan
penuh cinta kasih. Ia bisa nyinyir menyuruh-nyuruh ketiga temannya
seakan mereka adalah anak cucu menantu miliknya seorang; mereka mesti
mengaduk, menuang makanan dari panci kuali dandang, bergiliran membawa
piring mangkuk lodor ke meja makan. Dan, ketika semua makanan telah
datang terhidang, Batara akan mundur selangkah untuk mengagumi tampilan
mejanya. Ia berdiri tegak memandang semestanya yang lezat selayaknya
para dewa, berkacak pinggang dengan telunjuk terangkat menitahkan ketiga
temannya untuk menaklukkan seisi meja. Lalu dengan penuh kuasa ia
memerintahkan mereka untuk makan, tambah, makan lagi… secukupnya.
Kalau sudah begini, mereka bagai tenggelam dalam dunia fantasmagoria
ciptaan Batara. Bentang alamnya kira-kira tampak seperti ini: pepohonan
makanan yang berbuah bola-bola ghoulash yang gemuk-gemuk, berbunga pai
gelatin stroberi yang berembun merah berkilat-kilat, berdaun piterseli
dan kemangi, rerantingannya pasta bermentega yang menjulur-julur
panjang. Danaunya adalah kuah tempat potongan daging wortel kentang
paprika berenang-renang, ampela bebek bersampan irisan roti garing. Air
terjunnya curahan deras sari buah, anggur, kopi, cinta kasih Batara….
Dan, di antara semua ini, ketiga temannya terhenyak kekenyangan, merasa
seperti akan meledak, bunyi-bunyian aneh yang tak terjelaskan akan
keluar dari mulut-mulut mereka.
Kerap kali sang dewa kesedapan beterbangan di antara meja makan dan
dapur untuk mengambil tambahan ini ekstra itu, sambil berceramah, ”Tanda
sesungguhnya dari seorang gastronom sejati, teman-temanku, adalah
absennya keperluan dan keinginan untuk sok berhati-hati dengan semua
makanan berkah Tuhan, sebab dirinya telah sarat pemahaman yang terasah
secara cerdas dan halus. Rahasianya cuma satu: tak berlebih. Ingat ini,
segala sesuatu mesti berkadar secukupnya, selayaknya satu masakan
sempurna. Niscaya dia sehat-walafiat dan kelak meninggal dalam tidur
dengan senyum damai di wajah, seperti mendiang omaku—Tuhan
memberkatinya. Dan, ketika seorang gastronom telah mampu memahami
hakikat alur kulit nanas, misalnya, atau makna keteflonan penggorengan,
niscaya saat itulah dia menjelma seorang gastrosof.”
Dengan iba ia bicara tentang ’cewek-cewek kurus kering yang tampak
kelaparan itu, selalu membangkitkan naluri kekokianku untuk memberi
mereka makan’. Ia mencibiri ’kalkulasi asupan kalori,
lemak-kolesterol-karbohidrat, berat badan dan segala macam tetek-bengek
gaya hidup—cuma obsesi orang-orang yang khawatir dengan berat badan dan
penampilan, mereka yang memandang berkah serupa racun, begitu takut akan
maut. Maka, makanan pun menjelma energi buruk di badan mereka, penyakit
segala macam itu.’
Batara bersendawa, menghardik, membujuk-rayu, atau tertawa senang
dengan mata berbinar jika ketiga teman menghujani semesta masakannya
dengan puja-puji. Mereka juga mencela secara semena-mena dan keji,
khususnya perkara estetika meja makan. Gara-gara ia punya semacam
estetika ideal dalam setiap perjamuan yang meliputi jenis makanan,
tampilan meja dan atmosfer keseluruhan. Hal ini kerap menimbulkan
insiden kecil-kecilan di antara mereka.
Seperti hari ketika ia meletakkan jambangan mahabesar berisi
bunga-bunga yang tak bisa dinamai, menjulang tinggi dalam rangkaian agak
rumit. Mereka belum lagi mulai bersantap. Batara muncul dari dapur
dengan tergopoh-gopoh dan mengepul-ngepul dengan mangkuk besar di
tangan, diletakkan di sepetak lahan kosong yang tersisa di meja. Ia lalu
mundur selangkah, berkacak pinggang menatap senang tampilan mejanya,
telunjuk mengangkat dalam gestur dan titah wajib: ”Kelompensmokol, ayo
taklukkan makanan di depan kalian!” Lagaknya seperti gembala menghalau
ternak, atau mungkin itulah gaya Columbus di atas geladak ketika
menemukan Amerika.
Ale. ”Aku nggak bisa lihat muka Anya.”
Anya. ”Aku nggak bisa lihat muka Ale.”
Syam. ”Gara-gara jambanganmu yang terlalu besar dan megah ini.”
Batara. ”Terus kenapa? Kalian nggak harus bertatap-tatapan.”
Ale. ”Kami harus bertatapan.”
Anya. ”Sudah dari dulu begitu. Orang tua mengajarkan kami menatap orang yang sedang bicara.”
Batara. ”Nggak bisa. Seandainya kalian bisa menebak apa-apa gerangan
yang sudah kulakukan untuk mencapai komposisi, morfologi dan harmoni
meja setaraf ini.”
Syam. ”Kamu jual jiwa kepada setan. Atau jual diri?”
Ale. ”Singkirkan deh, supaya makanan bisa lebih lancar ditelan sambil bertatap-tatapan, tak ada yang tersedak.”
Anya. ”Dan para orang tua berbahagia anak-anaknya makan pengajaran.”
Batara. ”Aku sendiri yang merangkai bunga semalaman, setelah
sesiangan ke Rawabelong. Heh, pantat panci, kuping kuali, paham tidak
sih, kemarin itu macet, panas pula berkeliling seantero tukang bunga.”
Ale. ”Sudahlah, gentong bunga angkat saja. Kami sudah dari tadi menangkap realisme magis meja ini.”
Anya. ”Angkat, Batre, gentong atau bunga. Pilih salah satu.”
Batara. ”Repot amat. Tidak bisa dan tidak mau.”
Batara mulai berwajah bengis. Ini gelagat yang tidaklah baik bagi
semua pihak. Apalagi jika badannya yang gempal mulai bergumpal-gumpal,
niscaya sebagai manusia ia tampak berbahaya. Lalu sepanjang hari ia akan
terus memasang tampang tukang jagal seram, masam seperti cuka apel,
diam membisu seperti talenan, menghunus pandangan tajam yang
mengiris-iris seperti pisau daging. Lalu sambil menggumamkan
berulang-ulang mantra Sancho Panza, ’All ills are good when attended
with food’, Batara tetap saja menghidangkan yang perlu dihidangkan,
dengan garnis desisan dan geraman pertobatan, ’Ini smokol terakhir,
sungguh terakhir….’
Maka, kompromi mesti ditempuh; ketiga temannya rela membolehkan yang
biasanya tidak dibolehkan dalam situasi normal. Batara boleh menyanyi
berpura-pura menjadi siapalah, atau main akordeon lagu apalah, dan
mereka akan mendengarkan dengan tertib.
Sontak saja senyum dan energi Batara pun kembali, dirinya baterai
ceria penuh terisi. Ia mondar-mandir lagi tanpa henti, seperti anak
kelinci bintang iklan baterai. Konon, ia beroleh nama panggilan Batre
karena sedari bocah telah begitu lincah. Teman-temannya pernah terlibat
diskusi panjang yang kira-kira mirip dialektika ayam dan telur: apakah
Batre menghidupi namanya, ataukah justru nama itulah yang menghidupinya;
bukankah melelahkan sekali menghidupi nama? Tapi mereka sepakat, Batre
memang baterai nomor satu, sumber energi infiniti bagi dirinya sendiri:
terus, terus dan terus….
Mereka tahu bahwa di balik aksi-aksi ngambek sok bengis itu,
sesungguhnya Bataralah orang yang paling tulus dalam cinta kasihnya,
tanpa tahu mengapa atau untuk apa, bahkan tak hendak bertanya. Tak ada
sesuatu apa di balik cintanya; tanpa pretensi, kalkulasi, atau imbal
balik. Semacam cinta yang hanya bisa dipunyai anak-anak. Ia manusia
paling riang gembira sekelompok ini, bahkan sekota Jakarta. Sesekali
saja ia jatuh berduka.
Seusai smokol, sambil menunggui mereka mencuci piring, Batara duduk
memangku akordeon merah bernama Patchouli dan memainkan lagu dengan
khusyuk. Sang dewa smokol duduk megah menutup-buka akordeonnya, menebar
nada dewata di udara, di antara ketiga manusia jelata pencuci piring dan
pemberes meja makan yang cuma mendencing-dencingkan porselen dan
penggorengan teflon.
Di malam-malam larut, kelompensmokol menyambangi halaman belakang
rumah Batara. Keempatnya duduk bersandar kekenyangan, mengangkat kaki
menatap bintang. Mereka berbicara tentang apa saja; mengkhayalkan dapur
hidup fantasi dalam kosmologi Fourier, definisi tengik, cita rasa
akhirat.
”Akhirat…. Aku curiga cita rasa akhirat akan seperti ini. Kenyang dan
bahagia. Di surga kita akan kenyang, terlalu kenyang untuk
menginginkan. Buah zaitun dan anggur yang sejangkauan tangan, para
bidadari yang duduk bertelekan—terbuang percuma. Sedang Tuhan YME
menyaksikan kita, manusia-manusia yang terkesima, yang bergumam-gumam
heran, lho, tak kepingin lagi. Maka Tuhan bersabda, kenapa tak dari
dulu, wahai manusia.” Batre bergumam.
Di malam-malam larut seperti ini, ada cita rasa pulang yang mengalir
dalam udara pelan. Salah seorang akan berucap dan semua seakan percaya
pada apa yang terdengar. Tak ada yang mengatakan, tapi semua memahami
yang terasa: sececap cita rasa yang tak ternamai, tertinggal manis di
lidah. Dan cahaya bintang, meski hanya seberkas, namun cukup.
Maka, suatu hari Batara sungguh-sungguh jatuh berduka. Duka paling
nadir yang pernah dirasanya. Batara menangis tersedu-sedu sambil memeluk
satu pak tisu ukuran jumbo di depan ketiga temannya.
Ia berbicara terpatah tentang sekampung orang yang meninggal karena
kelaparan, tentang anak-anak berperut buncit dan bermata hampa yang
berjalan menyeret-nyeret kaki telanjang dan busung lapar
mereka—adegan-adegan yang akhir-akhir ini kian sering muncul di TV. Ia
tercenung membayangkan apa rasanya lapar berhari-hari. Ia mengenang meja
makan Oma Sjanne di Tomohon yang penuh sesak dengan makanan, tak satu
pun tamu atau musafir yang keluar dari rumah mereka dalam keadaan lapar.
Ia merenungkan betapa tampilan mejanya selama ini adalah aspirasi
penciptaan kembali meja makan mendiang omanya. Batara tak mengerti
mengapa Oma Sjanne luput menyelipkan satu saja bau kelaparan di antara
sejuta bebauan sedap masakan di dapur, mengapa meja makan Oma Sjanne tak
pernah menampakkan realisme meja-meja makan lain yang kosong belaka.
Kini bayang-bayang lapar yang telah selalu tercegat di bawah meja
makan itu datang menerjang di depan mata Batara. Berdiam di dalam
pelupuk matanya yang sembab, namun nyalang, menatap negeri ini. Negeri
yang penjuru-penjurunya tak pernah didatangi peri smokol. Negeri yang
tak kenyang dan tak bahagia, tak pernah surga.
Batara tampak agak kurus akhir-akhir ini.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar